“Di
mana hati orang, di sana hartanya juga, sebab Tuhan tidak biasa menolak orang
mohon pemberian baik.” (St. Ambrosius)
BACAAN INJIL
Lukas:15:1-3,11-32
Perumpamaan ini menunjukkan belas
kasih Allah yang melampaui kesalahan yang diperbuat manusia. Dia adalah Bapa
yang baik yang tetap mengakui anak bagi yang bertobat.
15:1 Para
pemungut cukai s dan orang-orang berdosa
biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 15:2 Maka
bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia
menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. t " 15:3 Lalu
Ia mengatakan perumpamaan u ini kepada mereka:
15:11 Yesus berkata lagi: "Ada seorang
mempunyai dua anak laki-laki. a 15:12 Kata yang bungsu
kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi
hakku. b Lalu ayahnya
membagi-bagikan harta kekayaan itu c di antara mereka. 15:13 Beberapa hari kemudian
anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh 4 . Di sana ia
memboroskan harta miliknya itu d dengan hidup
berfoya-foya. 15:14 Setelah dihabiskannya
semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai
melarat. 15:15 Lalu ia pergi dan
bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang
untuk menjaga babinya. e 15:16 Lalu ia ingin mengisi
perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun
yang memberikannya kepadanya. 15:17 Lalu ia menyadari
keadaannya 5 , katanya:
Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi
aku di sini mati kelaparan. 15:18 Aku akan bangkit dan
pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa f terhadap sorga dan
terhadap bapa, 15:19 aku tidak layak lagi
disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 15:20 Maka bangkitlah ia dan
pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh 6 , ayahnya telah
melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan 7 . Ayahnya itu
berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. g 15:21 Kata anak itu
kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, h aku tidak layak lagi
disebutkan anak bapa. 15:22 Tetapi ayah itu
berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah i yang
terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya j dan sepatu pada
kakinya. 15:23 Dan ambillah anak
lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 15:24 Sebab anakku ini telah
mati dan menjadi hidup kembali, k ia telah hilang 8 dan didapat kembali.
Maka mulailah mereka bersukaria. l 15:25Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan
dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. 15:26 Lalu ia memanggil
salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 15:27Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih
anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 15:28 Maka marahlah 9 m anak sulung itu dan ia
tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 15:29 Tetapi ia menjawab
ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku
melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor
anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. 15:30 Tetapi baru saja
datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaann bapa bersama-sama
dengan pelacur-pelacur, o maka bapa menyembelih
anak lembu tambun itu untuk dia. 15:31 Kata ayahnya kepadanya:
Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah
kepunyaanmu.15:32 Kita patut bersukacita
dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah
hilang dan didapat kembali. p "
RENUNGAN
Allah adalah Gembala yang setia. Ia tetap
menyayangi domba-domba-Nya meskipun domba-domba-Nya tidak setia. Satu harapan dalam
hati Allah yakni menyatukan semua domba-Nya dalam satu kawanan. Ia sendiri
menjaga dan merawat domba-domba-Nya. Betapa menggembirakan, kita memiliki Allah
yang demikian. Sungguh suatu kebanggaan memiliki Allah yang berhati Bapa.
Tetapi jujur, apakah Anda memiliki rasa bangga itu ? Jika tidak ada rasa
bangga, tidak ada rasa menghargai dan menghormati !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar